GUBERNUR NTB BERCERMIN CEMBUNG

Manusia untuk mjenjadi baik, lurus, patuh aturan dan taat azas itu tidak bisa/tidak cukup dengan kebaikan dan keinginannya sendiri. Manusia selalu butuh nasehat, peringatan dari orang lain karena seorang manusia tidak akan pernah berhasil secara utuh melihat dirinya sendiri.
Untuk menilai dirinya dia harus mencari orang lain sebagai cermin pantulan nilai. Tentu cermin yang baik adalah cermin yang datar,tidak cembung,tidak pula cekung. Mendapat nasihat, peringatan ini semakin meningkat kadar kebutuhannya bagi seorang manusia yang diberi amanat memimpin. Karena selain oleh sebab hukum dasar diatas, pemimpin dimandatkan diri dan hidupnya untuk orang banyak tidak lagi hanya untuk diri, keluarga dan kelompoknya semata.
Pemimpin oleh karenanya harus jauh lebih siap dan lebih intens menerima kritik dan masukan. Lebih bijak menerima kritik tersebut. Nah kritik PDI Perjuangan NTB atas kinerja gubernur NTB sebagai nahkoda pemerintah propinsi NTB, harus dimaknai dalam konteks itu. Gubernur dan seluruh “pembantunya” semestinya merespon itu sebagai kritik, nasehat dan peringatan sebagaimana bimbingan Allah SWT dalam surat Al Ashr.
Semestinya yang direspon itu subtansi masalah yang disampaikan bukan malah berdebat metode bahkan melakukan serangan balik. Mengerahkan seluruh “pembantu” untuk serangan balik tersebut. Ini kok cenderung memperlihatkan gubernur dan pembantunya sebagai amatiran, seperti baru tumben jadi gubernur padahal sudah 2 periode, atau jangan-jangan karena tidak terbiasa dikritik atau memang beginilah selalu cara “mereka” merespon kritik.
Terkait Prof. Zainal Asikin: beliau ini kan orang yang kalau bahasa sasak itu bisa “susut” keprofesorannya. Karena segala hal dikerjakan. Tiba-tiba jadi pengamat politik. Sekali waktu jadi tukang survey elektabilitas calon. Bare-bare jadi peneliti kos-kosan dan transaksi sex. Jadi komentator penjualan saham. Kemaren belum lama jadi kuasa hukum kasus tanah puyung. Nah tiba-tiba sekarang jadi pembela gubernur.
Masyaallah,profesor apa sebenarnya dirimu Zainal Asikin?. Saya curiga karena  banyak kerja dan bidang yg dilakoni maka prof Asikin jadi tidak fokus. Karenanya kemudian tidak mau repot menganalisis substansi kritik yang PDI Perjuangan sampaikan. Bukankah sebagai akademisi seorang guru besar sebagaimana guru besar guru besar yang lain. Lebih baik bersama sama melakukan telaah kajian lalu sebagai masukan bagi gubernur.
Tidak usah para akademisi ikut ikutan jadi “pembela” “pembantu” gubernur krn sudah banyak dia punya pembantu ya. Lebih mulia dan bermanfaat kalau para dosen kembali ke khittohnya sebagai akademisi.
Dan kepada gubernur dan pembantunya.  Bercerminlah pakai cermin datar agar nampak jelas pantulan diri kita. Berhenti jadikan pembantumu sebagai cermin karena pasti itu adalah cermin cembung yang memantulkan penampakan lebih besar dari aslinya. Dan sebenarnya cermin cembung membuat kita jelek dan tidak proporsional. Jadi jangan dipakai lagi ya. (SUHAIMI, Dewan Pembina Taruna Merah Putih NTB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *