KISAH INSPIRATIF UKM DI TENGAH BADAI KRISIS

Tersungkurnya rupiah serta PHK massal bukanlah kiamat. Senantiasa ada jalan keluar asal ingin berupaya. Berikut cerita berhasil entrepreneur kecil di dalam krisis ekonomi.

Dream – Pengeras nada computer di ruangan kerja seukuran separuh lapangan badminton itu selalu berbunyi : Tuing…. tuing… Satu per satu pesan masuk ke akun pria muda itu. Sedikit kerepotan dia selalu coba membaca cepat. Tidak ada saat selonjoran kaki.

Dalam hitungan menit, belasan pesanan telah masuk ke akun pemuda itu di satu website jual beli on-line, Bukalapak. com. Membalas pesanan yang masuk, buat dahi pria muda itu sedikit berkeringat. Sebab, diperlukan kecepatan sekalian kehatian-hatian waktu menjawab. Tidak bisa salah. Terlebih tertukar.

Pemuda itu bernama Sigit Nurdansyah Putra. Walau hari itu telah adalah akhir minggu, pria 31 th. ini selalu bekerja. Tidak ada hari libur baginya.

Sabtu itu, 29 Agustus 2015, Sigit memang sungguh-sungguh kerepotan. Maklum tanggal muda. Banyak pegawai yang baru terima upah. Pesanan juga membludak. Mendekati tengah hari, 30 transaksi jual beli kelar dibereskannya. Semuanya dia lakukan seseorang diri. Tidak ada yang menolong.

” Ya begini ini mas kerja saya. Alhamdulillah pesanan sekali lagi ramai, ” kata Sigit waktu terlibat perbincangan dengan Dream di tempat tinggalnya yang merangkap kantor, di Perumahan Kristal Garden, Cibinong, Bogor.

Barang yang di jualnya sebenarnya tidak istimewa. Cuma aksesori hp pandai seperti plastik antigores, baterai serta casing. Banyak yang jual barang ini di emperan. Bedanya, yang dia jual kwalitas premium. Dengan kata lain asli bukanlah barang tiruan. Sigit pandai jual barang yang tengah jadi trend. Tidak heran, pemburunya begitu banyak.

Saat ini lapak online-nya senantiasa ramai konsumen. Karena keluletan membesarkan usaha e-commerce itu mulai sejak Februari 2012, Sigit didaulat jadi pedagang terlaris atau top seller di bukalapak. com.

Pendapatannya, tidak sekali lagi sama dengan waktu jadi pegawai kantoran. Mulai sejak tiga th. memerankan usaha jual beli virtual ini, Sigit telah merampungkan 5. 284 transaksi. Omzet pria bermuka ‘ndeso’ asal Ngawi ini saat ini sekitaran Rp 200 juta per bulan! Mengagumkan.

Ketentuan Sigit jadi pedagang terhitung nekat. Dengan jabatan yang tengah naik daun serta upah cukup besar, Sigit pilih meninggalkan pekerjaannya. Jadi pedagang aksesories handphone.

Siapa nyana, pilihan ini jadi jalan paling baik buatnya. Keperluan uang untuk membiayai penyembuhan anaknya jadi motivasi awal buka lapak nyatanya sangat menolong.

***

Cerita pindah Sigit dari pekerja kantoran jadi pedagang on-line berlangsung di saat yang pas. Tengok ke lapangan, ekonomi Indonesia tengah melemah. Beberapa orang pilih menaruh uang dari pada membelanjakannya.

Ini berita jelek untuk perusahaan. Siapa yang ingin beli barang mereka waktu nyaris kebanyakan orang mengetatkan uang berbelanja. Untuk pekerja ini pasti berita jelek. Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mungkin berlangsung.

Sesungguhnya bukan hanya Indonesia yang dirundung kekhawatiran. Nyaris semua dunia alami. Dari seseorang CEO, pakar ekonomi, sampai pedagang emperan semuanya membahas kesusahan ekonomi yang tengah menyebar didunia usaha.

Kekhawatiran bebrapa perlahan beralih jadi ketakutan timbulnya sekali lagi Krisis Moneter 1998. Siapa yang ingin kembali pada masa penuh kehancuran itu.

Puncak kekhawatiran berlangsung saat rupiah perlahan tersungkur. Mata uang Indonesia ini terjun bebas ke level Rp 14. 000 per dolar AS. Tanda jelek bergaung kencang.

Masih tetap teringat pada th. 1998, depresiasi rupiah menjangkau 197 %. Akhirnya, rupiah yang umum di jual sekitaran Rp 2. 000 per dolar, melayang-layang ke tempat paling rendah Rp 16. 650.

Th. ini, Bank Indonesia (BI) mengatakan rupiah sudah melemah 9, 8 % mulai sejak Januari hingga minggu pertama Agustus 2015. Bank sentral masih tetap jumawa. Koreksi ini tambah baik dari Ringgit Malaysia yang turun 13, 3 % terlebih Real Brasil yang ambruk 29, 4 %.

Tetapi, untuk orang-orang pemula, kurs rupiah sekarang ini dipandang telah jatuh.

***

Di waktu kebanyakan orang ketakutan pada ancaman krisis ekonomi, mereka yang tidak ingin pasrah dengan kondisi malah melawan. Cerita berhasil Sigit di dalam badai ancaman krisis buka histori lama 1998. Saat itu, Usaha Kecil Menengah (UKM) jadi pahlawan. Mereka tidak terhadang krisis. Bahkan juga, menyelamatkan perekonomian nasional.

Saat industri tekstil yang 80 % tergantung pada bahan baku import banyak lakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta merumahkan pekerja, UKM jadi bantalan sekalian pintu keluar untuk pengangguran baru dari krisis ekonomi.

Saat ini, jaman sudah beralih. UKM tidak terus-terusan masalah produksi barang. Karena perkembangan tehnologi, orang-orang umum dapat jadi seseorang entrepreneur. Minimum mereka jadi pelaku bisnis, bukanlah sekali lagi pekerja.

Sigit, seseorang bekas pegawai kantoran sudah pindah jadi entrepreneur baru. Ya, entrepreneur aksesori hp. Dari menggantungkan upah bulanan jadi pemasukan, saat ini Sigit berpindah jadi penghasil uang. Sigit berhasil memakai perkembangan tehnologi jual beli on-line jadi kesempatan usaha.

Mesti disadari, Indonesia memanglah tengah keranjingan jenis usaha jual beli on-line ini. Nama bekennya e-commerce. Nilainya dapat buat orang yang mendengarnya kaget. Menteri Komunikasi & Informatika Rudiantara sempat mengatakan nilai perdagangan lewat e-commerce akhir th. ini akan menembus US$ 18 miliar-20 miliar, atau sama dengan Rp 254 triliun-Rp 283 triliun.

Usaha ini telah dua th. paling akhir menggurita. Dari cuma cetak US$ 8 miliar pada 2013, usaha e-commerce di Tanah Air tumbuh jadi US$ 12 miliar pada 2014, sama dengan Rp 170 triliun.

Dalam lima th. ke depan, usaha jual beli on-line ini ditaksir miliki nilai plus fantastis. Nyaris US$ 100 miliar. Bila dirupiahkan Rp 1. 417 triliun. Angka yang mengiurkan untuk memikat orang terjun ke usaha ini.

***

Tidak cuma Sigit yang berhasil terjun ke usaha on-line. Dina Sri Agustin serta Briane Noviante Syukmita yaitu dua wanita yang nikmati uang besar usaha e-commerce.

Dina mungkin saja cuma jual satu stiker dinding. Lewat e-commerce, wanita kelahiran 1977 ini saat ini mengantongi omzet dari jual stiker itu sampai Rp 45 juta. Pendapatan kotornya saja Rp 16 juta per bulan.

Enam th. bekerja jadi pegawai di pulau seberang, Dina banting setir jadi pedagang on-line. Terlebih dulu, dia sempat mengerjakan usaha Multi Level Marketing (MLM). Tetapi profesi baru ini tidak berhasil di dalam jalan.

“ Awalannya saya jualan lewat Facebook, juga lewat situs (blog), ” kata Dina yang mengakui kurang senang dengan pendapatan Rp 500 ribu per bulan.

Beda sekali lagi narasi Novi. Walau menggenggam titel sarjana filsafat dari univeritas negeri terkenal, Novi malas jadi pekerja kantoran yang menanti upah bulanan.

Berlainan dengan Sigit serta Dina sebagai re-seller, arti untuk penjual yang jual barang orang, Novi malah membuat product sendiri. Website jual beli jadi tempat pemasarannya.

Mengkreasikan kertas koran sisa, Novi membangun usaha Dluwang Art. Bermodal Rp 500 ribu untuk mulai produksi awal, Novi saat ini jadi bos dari dua orang pekerja. Bahkan juga waktu order membludak, Novi dapat merekrut 30 pegawai paruh saat.

” Mesti tahan banting, ” pesan Novi buat mereka yang menginginkan terjun ke dunia usaha.

Lagi, usaha UKM memanglah kembali tunjukkan tajinya jadi penyelamat. Jadi pahlawan di waktu beberapa orang cemas pada krisis ekonomi. Terlebih di jaman saat usaha on-line jadi tumpuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *