KEJAHATAN CYBER ANCAM KONSUMEN ONLINE

Kejahatan cyber saat ini mengancam konsumen online. Konsep belanja online dimulai pada tahun 1979 yang pertama kali dilakukan oleh Michael Aldrich dari Redifon Computers. Hal yang dilakukan adalah menyambungkan televisi berwarna dengan komputer yang mampu memproses transaksi secara realtime melalui sarana kabel telepon.

Namun saat itu gagasan ini tak populer. Masyarakat masih belum bisa membayangkan belanja tanpa mendatangi tokonya, tanpa memilih langsung, bahkan mencoba barang yang akan dibeli. Apalgi mencoba untuk menyentuh atau memakainya.

Sejak ditemukannya World Wide Web dan kemajuan internet, sejumlah penyedia jasa belanja dalam jaringan (daring) mulai bermunculan. Semua bidang pekerjaan memanfaatkan jaringan internet tersebut. Bisa kita lihat mulai dari sistem perbankan online, penjualan makanan, hingga kemunculan situs belanja Amazon.com dan eBay pada 1995.

Sebagaimana di lansir oleh Liputan6.com tentang kejahatan yang menyasar konsumen online.

Pada saat ini, berbelanja online popular diantara beberapa ‘kids zaman now’ dengan kata lain anak-anak jaman sekarang. Dengan menggunakan perangkat computer ataupun telepon genggam. Tidak mesti mendatangi penjual, tinggal tentukan, bayar, barang juga datang ke tempat penjual. Bayarnya juga tidak gunakan lembaran uang terlebih recehan. Sebab, uang elektronik semakin umum digunakan.

Tetapi, semua perkembangan serta keringanan mendatangkan celah untuk beberapa orang berotak ” kriminil “. Kejahatan juga bermetamorfosis. Maling tidak cuma membobol tempat tinggal orang, tapi juga menyelinap ke dunia maya melalui online.

Bintoro Adi jadi satu diantara korbannya. Pemuda 23 tahun itu kaget bukanlah kepalang waktu terima e-mail pemberitahuan dari satu diantara toko online. Di situ tercantum info kalau pembayaran untuk satu pesanan sudah berhasil terkonfirmasi.

Walau sebenarnya, ia tidak terasa beli apapun. Terlebih, alamat yang tercantum sekalipun tidak dia kenal. Bintoro mendadak sontak cemas. ” Bukanlah cemas karna uangnya. Tapi, akun toko online itu tersambung dengan e-mail saya, takutnya digunakan beberapa macam, ” kata dia.

Ia juga mengecek akun surat elektronik kepunyaannya. Lalu, ia menghubungi pihak toko online, memberitahu kalau email-nya diretas. Karyawan satu diantara bank itu memohon pesanan yang mencatut namanya itu dibatalkan. ” Pihak toko online cukup kooperatif. Mereka membatalkan pesanan, uang saya juga kembali, ” kata Bintoro.

Ia juga dianjurkan ganti keyword akun kepunyaannya. Pria yang yang tinggal di Jakarta Selatan ini sadar waktu itu sudah jadi korban kejahatan siber. Seorang memakai akun kepunyaannya dan memakai saldo depositnya untuk bertransaksi di toko online.

Hal sama dihadapi Aymenda. Wanita 29 tahun itu sangat terpaksa merelakan deposit saldo kepunyaannya di aplikasi ojek online raib dalam waktu relatif cepat.

Semuanya bermula dari satu panggilan di hpnya. Nada di seberang telepon mengakui dari customer service satu aplikasi ojek online.

Ia diiming-imingin memperoleh bonus saldo Rp 175 ribu. ” Dia katakan, ‘tunggu Mbak, telah di-SMS sebentar saja kok tinggal disebutin empat angka! ‘ ” kata Aymenda menirukan pengucapan peneleponnya.

Waktu saldo dicek, tidak ada menambahkan uang sesuai sama nominal yang sudah disetujui. Jadi ia kaget, pada history transaksi memberikan saldonya sudah ditransfer ke orang yang tidak ia kenal. Tinggal Rp 0.

” Saya segera telepon ke call centre-nya. Lantas akun saya di-suspend, ” tuturnya.

Masalah penipuan di service e-commerce memanglah ramai berlangsung selama tiga tahun terakhir ini, demikian menurut Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Spesial, Subdit Cyber Crime, Polri.

” Berdasar pada data yang kami punyai, laporan yang kami terima dari orang-orang, tiap-tiap th. alami penambahan. Pada 2015 hingga┬á 2017 itu cukup naik sekitaran 100 masalah ” kata Kanit IV Subdit Cyber Crime Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya, Kompol Fian Yunus.

 

MODUS CYBERCRIME

Ada dua modus yang digunakan ” maling jaman now ” dengan kata lain pencuri jaman saat ini yang melek tehnologi : ilegal akses serta penipuan.

Kanit IV Subdit Cyber Crime Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya, Fian Yunus, menerangkan hacking serta phising masuk dalam kelompok ilegal akses.

Dalam modus ini, aktor juga akan masuk lewat akun korban, lantas kuras saldo di dalamnya yang sudah didepositkan customer, dapat pula dengan mengincar kartu credit korban

Untuk masalah penipuan, umumnya dikerjakan lewat cara yang mengatas namakan pihak perusahaan jasa/toko on-line, lantas memohon data verifikasi kode atau keyword (password).

Direktorat Tindak Pidana Siber Tubuh Reserse Kriminil Polri (Dirtipidsiber Bareskrim) mencatat, jumlah kejahatan siber terutama pada penipuan serta hacking berkaitan e-commerce bertambah tiap-tiap tahunnya.

Th. 2016, ada 603 masalah penipuan e-commerce. Jumlah itu bertambah dari data 2015, sejumlah 535 masalah. Hingga sekarang ini, sampai triwulan pertama 2017, sudah ada 124 masalah.

Sedang masalah ilegal akses di tahun 2016 juga bertambah menjangkau 94 masalah, dari mulanya di tahun 2015 sejumlah 72 masalah. Sedang di triwulan pertama 2017 ada 24 masalah.

Sayangnya, tidak banyak korban yang melapor. ” Kita lihat teori gunung es, semakin banyak yg tidak melapor, karna mereka berfikir kalau ya uang hanya Rp 300 sampai Rp 200 ribu rupiah, dipandang jadi ‘uang sial’, ” kata Kompol Fian Yunus. ” Yang melapor dalam hal semacam ini, itu cuma korban yang kerugiannya diatas Rp 5 juta. ”

Dia memberikan, motif kejahatan yang berbuntut uang ini memakai celah sarana payment gateway atau sarana deposit uang, dimana customer menitipkan terlebih dulu beberapa uang untuk dipakai bertransaksi nanti.

Transaksi pembayaran lewat rekening uang yang sudah didepositkan umumnya memperoleh prioritas lebih. Harga juga lebih murah di banding pembayaran segera dengan tunai ataupun transfer.

” Dari laptop aktor (kejahatan siber) kami temukan ada software yang bisa dipakai, menarik e-mail dari Facebook, atau Twitter atau dari internet, ” tuturnya.

Akun e-mail serta nomor HP customer dipakai jadi kunci peretasan, untuk membobol saldo yang sudah didepositkan.

Kompol Fian memberikan, ramainya kejahatan siber berkaitan e-commerce, juga karna gampangnya memperoleh nomor rekening palsu serta simcard nomor handphone abal-abal untuk menolong tindakan jahat aktor, tanpa ada meninggalkan jejak aksinya.

” Telah banyak. Jadi sempat kami dapatkan di satu aktor, dia miliki 100 kartu ATM, serta buku tabungan. Ada juga sim card serta KTP, yang pastinya palsu. ”

Masalah kejahatan siber berkaitan e-commerce memperoleh perhatian Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA).

” Semasing e-commerce itu telah lakukan perbuatannya semasing pada pengamanan data, ” kata Aulia Martino, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia.

Ia lihat, ramainya sosial media, memberi kesempatan pada beberapa penjahat siber. Menurut Aulia, dengan sadar atau tidak, beberapa yang memiliki akun menghadirkan info data diri lengkap pada akun pribadi.

Aulia memberikan, supaya tidak jadi korban, perlu untuk kebanyakan orang untuk melindungi keamanan data pribadi, serta tidak asal-asalan membagikan pada orang yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *