Cerita Dibalik INDONESIA MENGGUGAT

INDONESIA MENGGUGAT, Kalimat ini mungkin saja terus-terusan kita dengar. Kata yang terangkai begitu heroik. Namun apakah benar kalimat itu suatu hal yang heroic? Apa apabila benar jadi dimana letak keheroikannya?

Pembelaan Bung Karno yang diberinya judul “INDONESIA MENGGUGAT” yaitu satu diantara masterpiece pemikiran Bung Karno. Butir-butir pemikiran yang ia tuangkan dalam teks pembelaan itu, betul-betul adalah hasil kontemplasi seseorang pemikir muda, dalam ruangan tahanan Belanda sepanjang delapan bulan.

Persidangan yang bersejarah tersebut berjalan 18 Agustus 1930, berada di Jl. Landraad Bandung. Tuduhan pada Bung Karno cukup serius, yaitu pelanggaran pada Undang Undang Hukum Pidana, pasal 161, 171, serta 153 yang di kenal jadi Haatzaai artikelen, satu pasal yang begitu lentur. Pasal yang acap dipakai pihak penguasa pada “musuh politik”, yang sesungguhnya adalah delik penebaran rasa tidak suka.

Sukarno, dengan tiga partnernya : Gatot Mangkupraja, Maskun, serta Supriadinata dituduh ambil sisi dalam satu organisasi yang memiliki maksud menggerakkan kejahatan, di samping usaha yang menghadap pada penggulingan kekuasaan Hindia Belanda. Mengenai organisasi yang disebut yaitu Perserikatan Nasional Indonesia, yang dibangun pada tanggal 27 Juli 1927. Oranigasi tersebut yang lalu jadi cikal-bakal lahirnya Partai Nasional Indonesia (PNI).

Persidangan berjalan panjang, mulai sejak bulan Agustus sampai Desember 1930. Dalam keseluruhnya rangkaian persidangan, pihak Hindia Belanda menghadirkan saksi paling utama untuk penuntut umum, Komisaris Polisi Albreghs. Namun kesemua info, sekalipun tidak berhasil mengarahkan pada rangkuman ada subversi komunis. Usaha penuntut umum untuk tunjukkan ada hubungan segera pada PNI serta Perhimpunan Indonesia di Belanda, yang mengarahkan ada subversi komunis.

Semuanya tudingan itu berhasil di tepis Sukarno, sebaliknya Sukarno berhasil menunjukkan independensi PNI. Dalam sistem persidangan, Bung Karno dan kawan-kawan didampingi pengacara Suyudi, Ketua PNI Cabang Jawa Tengah, tuan-rumah waktu Sukarno di tangkap, Mr Sartono, seseorang rekanan dari Algemeene Studieclub yang tinggal di Jakarta serta jadi Wakil Ketua yang mengurusi masalah keuangan partai, Mr Sasromulyono yang tinggal di Bandung. Ketiganya lakukan tugasnya tanpa ada dibayar, bahkan juga ikhlas membiayai seluruh pengeluaran.

Sekalpun demikian, Sukarno terasa butuh mempersiapkan pembelaannya sendiri. Nah, himpunan pembelaan tersebut yang lalu dirangkum dalam buku INDONESIA MENGGUGAT. Buku itu sudah di translate kedalam sebagian bahasa asing. Hingga saat ini, INDONESIA MENGGUGAT jadi dokumen history politik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *