Bina Lawang Selly Sumbang Puluhan Berugak

Bina Lawang Selly ( Barisan Inaq Amaq Lauq Kawat Pengagum Selly Andayani ) secara swadaya dan gotong royong membuat berugak untuk di serahkan ke masyarakat. Istilah Lauq Kawat mereka gunakan untuk menunjukkan identitas mereka berada. Relawan ini berasal dari mulai Paok Motong sampai ke selatan hingga ke Keruak dan Jerowaru.

Relawan Bina Lawang Selly secara gotong royong merampungkan puluhan berugak. Berugak tersebut akan di jadikan sebagai posko pemenangan Ali Selly. Posko tersebut akan di sebar sampai pada tingkat dusun yang ada di wilayah lauq kawat.

Sampai saat ini telah puluhan berugak yang di distribusikan antara lain ke dusun  Selayar, dusun Suangi, dusun Pantur, Pandan Duri, Sukarara, Penjaring, Leong, Ekas, Jerowaru dan sebagainya. Sebagai pusat posko Bina Lawang berada di Jerowaru.

Mengapa Berugak ?

Relawan Bina Lawang Selly sengaja mendirikan poskonya berupa berugak. Hal tersebut di karena filosofi yang ada pada bangunan tersebut. Tiang Berugak yang berjumlah 4 bagi masyarakat Sasak dimasa lampau memiliki makna : pertama Kebenaran yang harus diutamakan. Kedua Kepercayaan diri dalam memegang amanah. Ketiga kejujuran dalam menyampaikan sesuatu hendaknya berlaku jujur dan polos dan ke empat Tanggap,  sebagai orang yang beriman hendaknya pandai / cerdas dalam menyikapi masalah (tanggap).

Fungsi dan kegunaan Berugak adalah sebagai tempat menerima tamu. Lebih lanjut berugak ini harus dalam bentuk terbuka tidak memiliki dinding. Hal tersebut melambangkan transparansi dan tidak ada penyekat karena siapapun berada ditempat itu akan dapat dilihat dan disaksikan oleh semua orang.

Makna dan filosofi itulah yang di adopsi Bina Lawang Selly berugak sebagai posko pemenangan mereka di kawasan lauq kawat. Filosofi tersebut selaras dengan dua figur yang mereka unggulkan.

“Sifat mengutamakan kebenaran, amanah, jujur dan tanggap sebagaimana filosofi tiang berugak itu sperti sifat dan karakter Pak Ali maupun Bu Selly Andayani” ujar amaq Syaf.

“Kita berharap kita memperoleh pemimpin seperti mereka yang tarnsparan dan tanpa penyekat dengan rakyat. Seperti berugak, tanpa dinding dan penyekat” tambahnya pula.

Filosofi kearifan lokal tersebutlah yang diadopsi untuk memenangkan Ali Selly khususnya di wilayah Lombok Timur. Mereka terus akan bergotong royong untuk menularkan filosofi bangunan Sasak tersebut sampai ke Bima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *