BERBURU HARTA KARUN DI LOMBOK

BERBURU HARTA KARUN DI LOMBOK
H Sarnah, pegiat seni di Lombok Barat

Berburu harta karun di lombok, membaca judul tersebut maka dalam persepsi kita akan menemukan emas permata. Hal tersebut adalah lazimnya orang berburu harta karun. Di Lombok sendiri menurut berbagai cerita dan fakta masih ada yang berupaya berburu harta karun yang diyakini masih banyak terpendam. harta karun yang di pendam saat zaman penjajahan Jepang di Lombok. Harta karun yang ditanam Jepang di yakini di kubur di wilayah Kota Raja Lombok Timur, begitu di tuturkan Firdaus dari Masbagik Lombok Timur.

salah satu harta karun yang mulai banyak di bawa keluar negeri adalah naskah lontar yang biasa di Lombok di sebut takepan. Seiring mulai ramainya pulau Lombok di kunjungi wisatawan asing, sedikit banyak kekayaan Lombok di eksplorasi dan di boyong ke luar negeri. Salah satunya naskah kuno yang di buru wisatawan asing.

Warga asing yang berburu harta karun di Lombok tersebut, menghargai naskah takepan, lontar senilai Rp 1.000.000 sampai Rp.3.000.000,- begitu yang dituturkan pedagang barang kuno di pasar Cakranegara, Mataram. Kadang pedagang tersebut tidak menjual koleksinya yang langka ke orang asing. Mereka menunggu pembeli lokal. Namun kendalanya pembeli lokal tidak berani memasang harga.

Jika berminat berburu harta karun di Lombok, tidak ada salahnya anda mengunjungi pasar Cakranegara yang berada persis di tengah Kota Mataram. Di lantai dua pasar Cakra tersebut bisa berinteraksi dan berkomunikasi mencari harta karun tersebut. Bila mujur nasib anda, bisa berbagai harta karun di peroleh dengan harga yang sangat miring.

Penulis beberapakali berburu harta karun di Lombok dengan mengunjungi pasar cakra tersebut. Dari perburuan tersebut di dperoleh naskah – naskah lontar yang diakui oleh beberapa seniman dan dalang Lombok usia naskahnya cukup tua. Salah satunya adalah Haparas (Nabi Bercukur), Monyeh.

Di museum NTB, Jl Panjitilar Negara setidakna   tersimpan 1350-an naskah lontar. Naskah-naskah yang tersimpan di museum ini cukup beragam. Ada lontar dengan judul Rengganis, Jatiswara, Monyeh, Puspakerma dan Amir Hamzah. Pada upacara kelahiran bayi, judul lontar yang dilantunkan adalah Rengganis yang menceritakan tentang kehidupan raja yang merawat bayi tanpa kehadiran istrinya. Dalam kisah itu diperlihatkan bagaimana kesabaran raja menguyahkan nasi untuk sang putri yang tidak mendapatkan air susu ibu. Pada acara khitanan yang dilantunkan adalah lontar Kilabangkara yang mengajarkan perilaku pemimpin yang baik.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *